< 1 >
Read!
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 2 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 3 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 4 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).

Kamis, 10 November 2016

Catatan Kecil Sang Petualang "Melihat Kebaikan"


Bagaimanakah perasaan kita ketika melihat kebaikan? Apakah akan bahagia ataukah akan bersedih? Lumrah manusia ketika melihat kebaikan dia akan berbahagia. Tak ada satu pun kebaikan yang membuat manusia bersedih.  Namun, sangat disayangkan kebanyakan manusia lebih senang melihat kebaikan daripada berbuat kebaikan.

Jika dengan melihat kebaikan, kita akan merasakan kebahagiaan. Apalagi jika berbuat kebaikan tentu akan lebih lagi kebahagiaan yang akan dirasakan. Kebaikan itu indah sehingga enak untuk dipandang. Kebaikan itu pun mudah sehingga ringan untuk dilakukan. 

Selama ini mungkin kita hanya berada pada posisi melihat kebaikan belum memasuki posisi berbuat kebaikan.  Contoh mudahnya, ketika kita melihat seorang anak membuang sampah pada tempatnya. Kita akan merasakan bahagia melihat kejadian tersebut. Namun, pada diri kita kebiasaan membuang sampah tersebut belum tertanam sehingga belum bisa melakukannya laksana anak kecil yang dididik sejak dini.

Lihatlah kebaikan agar kita termotivasi untuk selalu berbuat baik. Dengan melihat kebaikan setidaknya menutup kemungkinan mata ini tidak melihat keburukan. Tapi, jika mata ini tak diperlihatkan pada kebaikan maka keburukanlah yang akan dilihatnya.

Diluar sana banyak orang berlomba-lomba berbuat kebaikan sebab mereka tahu dengan kebaikan itu mereka akan memperoleh kebahagiaan yang mereka cari selama ini. Kebahagiaan yang muncul pada kebaikan akan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang muncul karena keburukan. Kebahagiaan yang muncul karena keburukan hanya beberapa saat, tak lama kemudian kebahagiaan itu akan pergi dari keburukan.  Sedangkan kebahagiaan yang muncul karena kebaikan, ia akan bertahan lama. Sebab, sahabat sejati dari kebahagiaan itu adalah kebaikan. Mereka berdua akan senantiasa bersama dan bergandengan tangan tatkala mereka menghinggapi seorang insan.

Kebahagiaan ada disaat kebaikan ada dan kebaikan pun ada dikala kebahagiaan ada. Begitu pula dengan keburukan, kesedihan ada dikala keburukan ada dan keburukan ada disaat kesedihan ada.

Kita sebagai manusia dianjurkan untuk selalu optimis untuk melakukan kebaikan karena kebaikan itulah yang akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan.  Selama ini kita tak menyadari bahwa kebahagiaan itu ada pada kebaikan. Oleh sebab, tak menyadari itu kita mencari kebahagiaan pada keburukan. 

Setelah mencari kebahagian pada keburukan, kebahagiaan pun diperoleh sesaat, sesaat kemudian kebahagiaan kabur. Kebahagian tak akan pernah betah berlama-lama dengan keburukan. Manusia kehilangan kebahagiaan dari keburukan kemudian berbuat buruk kembali demi mendapatkan kebahagiaan, memperoleh kebahagiaan sesaat, hilang. Berbuat keburukan kembali. Berputar terus menerus hingga hari akhir.

Sungguh bahagia melihat orang yang berbuat kebaikan.  Dengan kebaikan itu dia memperoleh kebahagiaan. Karena tahu kebaikan mendatangkan kebahagiaan kemudian dia berbuat kebaikan kembali agar kebahagiaan menghampiri kembali. Begitu terus-menerus berputar tak terhenti.

Kebahagiaan itu dekat. Ada di dalam diri masing-masing manusia. Dengan berbuat baik. Kebahagiaan akan muncul secara tak disadari maupun disadari. 

Lihatlah kebaikan orang lain, jika diri ini belum mampu untuk berbuat kebaikan. Pada saat melihat kebaikan orang lain. Kita belajar untuk berbuat kebaikan pula agar tertular untuk berbuat kebaikan.

Mata ini sebagai sarana untuk memperoleh contoh yang baik dari berbuat kebaikan. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk melihat hal-hal yang baik agar hal-hal yang baik itu akan dilakukan.  Dari mata yang terbiasa melihat kebaikan, hati dan otak pun akan terprogram untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan. Sebaliknya, jika mata ini terbiasa melihat keburukan maka keburukan pun terprogram pada otak dan hati  manusia.

“Sinar yang paling berbahaya”, ucap seorang guru besar Farmasi menjelaskan “adalah sinar mata”. Dari sinar mata itulah yang akan memberikan bekas pada hati dan otak manusia.

Biasakanlah mata ini untuk melihat kebaikan agar bekas kebaikan itu berbekas dan lama-kelamaan akan mengendap di dalam otak dan hati sehingga endapan itu akan menggerakkan hati dan otak pemiliknya untuk berbuat kebaikan pula.

Apa yang kita lihat itulah yang sering kita lakukan. Jika kebaikan sering dilihat maka kebaikan pula yang akan diperbuat. Jika keburukan lebih banyak dilihat maka keburukan pula yang lebih sering dilakukan.

Kebaikankah atau keburukankah yang akan dilihat? Jika kita mengetahui bahwa kebaikan akan berujung pada kebahagiaan dan keburukan akan bermuara pada kesedihan. Tentu, kita akan memilih kebaikan. Kebaikan yang dilihat serta kebaikan yang dilakukan.

Tak cukup hanya sekedar melihat kebaikan. Alangkah indahnya, jika kebaikan yang dilihat kemudian dilakukan sebagai bentuk amalan ataupun rutinitas sehari-hari. Rutinitas kebaikan  itulah yang akan menjadikan diri  manusia bahagia melalui hari-hari dengan berbagai persoalan yang hilir mudik menyapa.

Lihatlah kebaikan sebagai wujud rasa syukur manusia yang telah dikaruniakan mata untuk dipergunakan pada hal-hal yang baik. Bukan sebaliknya, pada hal-hal yang buruk itu sama halnya mengingkari mata yang telah diberikan dengan sempurna kepada setiap manusia.

Bermula dari mata kebaikan masuk, kemudian perlahan-lahan akan menempel di otak dan hati. Selanjutnya, karena tempelan kebaikan itu manusia akan bergerak untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang akan memberikan kebahagiaan bagi dirinya. Kebahagiaan yang sangat diidam-idamkan oleh setiap insan yakni kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Berbagi Ceria Lewat Cerita




Rabu, 09 November 2016

Catatan Kecil Sang Petualang "Pahlawan Sesungguhnya"


Tak disadari selama ini kita lupa, lupa bahwa pahlawan sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Diri yang dibawa pada perjuangan mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Diri ini pula yang berjuang sebelum lahir ke dunia sebagai sel sperma yang mampu bertahan hingga membuahi sel ovum. Dari itu maka terbentuklah embrio.

Perjuangan itu diawali sejak sebelum manusia dilahirkan. Sesudah dilahirkan pun, perjuangan masih tetap berlanjut. Berjuang untuk bisa berbicara, mendengar, bergerak, berdiri dan semua yang dilakukan oleh sang bayi sesudah dilahirkan.

Sel sperma berjuang, bayi berjuang. Sekarang? Menginjak anak-anak, remaja, dewasa bahkan tua. Perjuangan itu terus berkelanjutan tanpa henti.

Perjuangan akan terhenti saat nafas ini tak mampu lagi ditarik atau ketika tidak bisa lagi dihembuskan. Itulah perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan. Bukan hanya berjuang melawan penjajah. Tapi sebenarnya, berjuang melawan diri sendiri dan hawa nafsu merupakan sisi dari pahlawan yang ada di dalam diri manusia.

Lihatlah.. Di luar sana, masih banyak orang atau bahkan kita sendiri yang belum mampu melawan diri dan hawa nafsu dari berbuat keburukan. Diri ini berkubang pada lumpur keburukan yang tiap hari semakin menumpuk tanpa disadari.

Perjuangan melawan diri memang memerlukan tenaga, biaya, pikiran dan perasaan yang sangat kuat. Melawan diri untuk tidak berbuat keburukan perlu perjuangan. Sama halnya saat berjuang diri untuk berbuat kebajikan. Keduanya memerlukan perjuangan yang tidak sedikit dan singkat.

Apalagi melawan hawa nafsu yang liar. Ibarat binatang, hawa nafsu itu perlu diikat agar tidak liar. Jika liar maka inilah perjuangan yang harus dilakukan oleh manusia untuk melawannya. Berjuang melawan hawa nafsu bukan berarti membunuh atau menghilangkannya tapi mengendalikannya ‘diikat’. Jika hawa nafsu dibunuh atau dihilangkan maka hawa nafsu untuk berbuat kebaikan pun akan leyap. Sebab, hawa nafsu tidak hanya membawa pada keburukan tapi juga menuntun pada kebaikan. Asalkan, ia dikendalikan dengan arif dan bijaksana.

Perjuangan ini belum usai, sebab diri sendiri dan hawa nafsu akan selalu membersamai manusia hingga tutup usia. Setiap hari manusia akan tetap terus berjuang untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Kitalah pahlawan yang sesungguhnya. Kita pulalah yang akan memperjuangkan diri kita masing-masing kelak di masa depan baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Manusia akan dicap sebagai pahlawan manakala dia mampu untuk melawan dirinya dari buat keburukan dan mengendalikan hawa nafsunya dari kejelekan yang akan berujung pada penyesalan.

Menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Itulah kunci awal untuk mampu menjadi pahlawan bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara bahkan dunia.

Tak ada kata terlambat untuk berubah. Berubah menjadi sosok manusia yang lebih baik. Berubah menjadi insan yang berusaha istiqomah dalam jalan kebenaran. Berubah menjadi diri yang bisa memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Pahlawan sesungguhnya adalah aku. Diri aku sendiri. Sebab, perubahan besar tak akan pernah terjadi jika aku tak bisa memperjuangankan diriku sendiri.

Yogyakarta, 10 November 2016

Berbagi Ceria Lewat Cerita

Aulia Rahim


Sabtu, 05 April 2014

Catatan Kecil Sang Petualang "Pemimpin Juga Perlu Nasihat"



“.... serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”
(potongan ayat ketiga surah Al-Asr)


Orang yang beriman disebutkan dalam surah Al-Asr yakni melakukan tiga perkara. Satu perkara untuk diri sendiri sedangkan dua perkara lainnya untuk diri sendiri dan orang lain. Apakah dua perkara tersebut? Seperti yang tertera di potongan ayat di atas yaitu saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.


Kita sebagai manusia dianjurkan untuk saling menasihati pada kebenaran dan kesabaran. Dimana saling menasihati tersebut dengan berbagai cara yang diajarkan oleh agama. Salah satu nasihat yang sering terlontarkan dan tak disadari berupa kritik. Kritik yang bersifat membangun dan dalam rangka sebuah perbaikan menuju lebih baik lagi. Jikalau tidak bukan dengan cara kritik yang membangun, bagaimanakah kita akan tersadar dengan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat?


Manusia tetaplah manusia. Manusia tak akan bisa menjadi malaikat yang terbebas dengan dosa sebab manusia memiliki berbagai kekurangan dan kelebihan di dalam diri masing-masing. Pada hakikatnya pun manusia itu kecil, rendah, kotor, hina, tak punya apa-apa karena pembeda antara satu manusia dengan yang lainnya hanya tingkat ketaqwaan di sisi-Nya.


Manusia sering melakukan kesalahan  yang kadang disadari dan  kadang pula tak disadari. Jika kesalahan itu disadari maka taubat adalah jalan satu-satunya agar dia bisa menghapus dosa-dosa yang telah dia perbuat.


Namun,jika kesalahan itu tidak disadari, bagaimanakah cara dia menghapus dosa-dosa yang telah dia perbuat?


Dari sinilah kita bisa menitikberatkan arti sebuah nasihat dalam bentuk apapun. Nasihat dalam bentuk teguran, kritik,atau bahkan sebuah caci maki pun diperoleh untuk menyadarkan dari kesalahan yang selama ini menghayutkan sehingga lupa dengan diri.


Lewat nasihat kita bisa mengevaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukankah itu yang kita harapkan menjadi pribadi yang setiap hari semakin bertambah umurnya dan semakin bertambah pula amal kebajikannya yang akan dibawa kelak di hari akhir.


Nasihat itulah yang secara tidak langsung mengajarkan kepada kita arti belajar dari kesalahan. Manusia tidak akan mau masuk ke dalam lubang yang sama. Apabila dia selalu masuk dalam lubang kesalahan yang sama maka dia tiada pernah belajar dari kesalahan yang pernah diperbuat sebelumnya.


Kita memerlukan orang lain untuk menasihati diri ini sebab tak cukup jika hanya diri sendiri yang menasihati diri ini. Begitu banyak kesalahan yang kadang tak Nampak sehingga membuat diri ini tak menyadarinya. Layaknya ungkapan yang sering didengar,


“Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak”


Kesalahan-kesalahan orang lain terlihat jelas. Tapi, kesalahan sendiri tak terlihat oleh diri pribadi sehingga diperlukannya orang-orang yang peduli dengan kita agar mereka mau memberikan nasihat demi sebuah perbaikan diri mencapai kesucian insan yang sejati.


Sama halnya dengan seorang pemimpin. Pemimpin pun memerlukan nasihat dari orang-orang disekitarnya, tidak hanya dari orang-orang terdekatnya. Tapi, nasihat dari semua orang diaperlukan. Sebab, terkadang orang-orang merasa sungkan untuk menyampaikan sebuah nasihat terlebih bukan orang terdekat sebab dia merasa rendah diri, tak mungkin rasanya menasihat seorang pemimpin yang lebih tua ataupun lebih tinggi derajatnya dalam sebuah organisasi.


Padahal kita ketahui bersama, pemimpin itu ada dari orang-orang kecil disekitarnya. Dahulunya dia pun orang-orang kecil disebabkan amanah  yang diberikan kepadanya yang menjadikan dia menjadi seorang pemimpin.


Sewajarnya pemimpin terbuka terhadap semua bentuk nasihat apapun yang diberikan kepadanya. Sebab, itulah gambaran sosok dirinya di hadapan orang-orang yang dipimpinnya. Masih layakkah hal-hal yang selama ini dia lakukan ataukah sudah tidak layak lagi dia lakukan?Orang-orang yang dipimpinnya itulah yang akan merasakannnya.


Apabila pemimpin anti terhadap nasihat ataupun anti kritik maka kekacauan akan terjadi dengan orang-orang yang dipimpinnya.


Sifat manusia merasa bangga ketika berada di atas menyebabkan diri seorang pemimpin merasa mulia. Padahal,jika tidak karena orang-orang yang dia pimpin, dia tidak akan menjadi seorang pemimpin. Mengapa harus menutup diri dari nasihat dan kritikan orang-orang yang dipimpin?


Sahabat nabi, Abu Bakar As-Siddiq pernah mengajarkan kepada kita pada saat beliau mendapatkan amanah sebagai khalifah. Ketika itu sambutan pertama yang beliau lontarkan yakni turutilah segala apa yang beliau perintahkan jika perintah itu beraromakan kebaikan dan ketaqwaan  tapi tegur atau nasihatilah beliau jika perintah itu sudah melenceng darisyariat agama.


Bayangkan seorang khalifah pertama bahkan sahabat nabi terdekat sekaligus mertua nabi berkata demikian. Apakah kita yang sekarang mengemban amanah seorang pemimpin tak mau dinasihati ataupun dikritik?


Abu Bakar yang keimanannya jika ditimbang dengan seluruh umat manusia di bumi ini masih lebih berat keimanannya masih meminta nasihat, teguran atau kritik pada saat dia memimpin. Bagaimana dengan kita apakah keimanan kita sebanding dengannya?


Nasihat, teguran, kritik ataupunbentuk lainnya sangat kita harapkan tidak hanya saat kita menjadi seorang pemimpin. Pada saat kita menjadi manusia biasa itu semua tetap diharapkan sebab iman manusia turun naik. Terkadang berbuat kebaikan dan terkadang pula berbuat keburukan.


Bagaimanakah iman kita pada saa tmenjadi pemimpin? Apakah akan selalu naik? Ataukah akan menurun? Nasihat itulah yang akan mengendalikannya. Dia akan menjadi kontrol dalam setiap tingkah laku yang diperbuat.


Pemimpin juga manusia. Jika dia salah tegur dan nasihatlah. Begitu pula dengan sang pemimpin, ketika teguran dan nasihat terlontar dari orang-orang yang dipimpinnya dengarkanlah dan perbaikilah apapun yang telah mereka rasakan dari sistem kepemimpinan yang telah diterapkan.


Dari timbal balik antara  pemimpin dan orang-orang yang dipimpin itulah yang akan menjadikan ketentaraman dan kenyamanan bagi semua aspek kehidupan.



Yogyakarta, 5 April 2014, 19.26 WIB


Berbagi Ceria Lewat Cerita


Aulia Rahim





Rabu, 25 Desember 2013

Catatan Kecil Sang Petualang "Lelaki Pantang Sholat Sendiri"



            Apa jadinya apabila seorang lelaki lebih memilih sholat sendiri daripada sholat berjamaah di masjid, mushola ataupun surau di sekitar tempat tinggalnya. Mungkin, kita masih ingat dengan cerita ketika Rasulullah SAW memperingatkan kepada tetangga-tetangga beliau keluar rumah dengan teguran akan membakar rumah-rumah yang penghuninya tidak mau keluar untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Himbauan itu ditujuan untuk para lelaki yang enggan melangkahkan kakinya menuju rumah-Nya. 

      Bagaimanakah kondisinya jika ini terjadi pada zaman sekarang. Zaman yang serba ada dan diberikan berbagai kemudahan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Namun, kembali ke diri pribadi masing-masing. Bagaimanakah menanggapi kemudahan yang diberikan tersebut? Apakah dengan kemudahan itu akan menambah ketaqwaannya kepada Sang Kholiq? Ataukah hanya akan membuat murka Sang Ilahi karena berani menduakan-Nya?

      Dengan berbagai kemudahan itu tak mungkin kita tak bisa keluar rumah sejenak untuk melangkahkan kaki menuju tempat nan suci. Apabila tempat tersebut lumayan jauh, kita bisa menggunakan sepeda ataupun motor atau bahkan mobil untuk bersegera memenuhi panggilan-Nya. Tetapi, realita yang ada kita semakin enggan untuk berdiri menuju keridhoan-Nya. Kita (kaum lelaki) lebih memilih sholat sendiri di rumah daripada sholat bersama-sama di masjid.

      Sholat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah yakni sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Dengan sholat berjamaah kita semua mendapatkan berbagai manfaat dan kelebihan yang akan kita rasakan di dunia maupun di akhirat.

      Lelaki pantang sholat sendiri. Sebab para lelaki memang disunnah untuk sholat secara berjamaah sedangkan para wanita lebih disunnahkan untuk melaksanakan sholat sendiri di rumah dikarena untuk menjaga diri.

      Domba yang berjalan sendiri akan lebih mudah dimaksa oleh srigala daripada domba yang berjalan bersama-sama. Keamanan dan ketenangan akan didapatkan oleh domba yang berjalan secara bersama.

      Begitu pula dengan manusia terlebih untuk para lelaki ketika melaksanakan sholat. Mereka akan lebih mudah diganggu pada saat sendirian daripada pada saat berkumpul bersama baik itu ketika sholat berjamaah ataupun ketika berkumpul di dalam majelis ilmu atau majelis dzikir.

      Orang yang melaksanakan sholat secara berjamaah akan mendapatkan pahala duapuluh tujuh derajat lebih banyak daripada orang yang melaksanakan sholat secara sendirian. Masih kurangkah pahala yang diberikan tersebut?

      Memang, mulai sekarang kita (kaum lelaki) perlu mengevaluasi diri untuk bisa memperbaiki kualitas dan kuantitas sholat kita. Apakah sudah kita laksanakan secara berjamaah? Ataukah hanya kita lakukan sendirian di dalam kamar?

      Tak malukah kita kepada para sahabat nabi yang pada zaman itu mereka selalu sholat berjamaah walaupun terkadang ancaman dan halang rintang menghadang mereka ketika melangkah menuju Rumah-Nya.

      Sedangkan kita sekarang dengan berbagai kemudahan yang diberikan-Nya terasa semakin malas untuk bangun berjalan menyukuri kaki dilangkahkan menapaki jalan-jalan surga-Nya.

      Mari kita renungkan sesaat, sudah benarkah kita sholat? Ataukah selama ini kita salah niat hanya berbuat untuk menggugurkan kewajiban umat tanpa memikirkan hari akhirat?

Berbagi Ceria Lewat Cerita

(Aulia Rahim)

Sabtu, 30 November 2013

Catatan Kecil Sang Petualang "Tebarkan Senyuman Raih Kebahagian"

Bahagia itu mudah. Disaat kita bisa tersenyum untuk diri sendiri dan orang lain. Kita bisa merasakan kebahagiaan. Tak sulit ketika kita menginginkan sebuah kebahagiaan. Kerena kebahagiaan itu diciptakan bukan ditunggu-tunggu kedatangannnya. Salah satu cara kita untuk menciptakan kebahagiaan yakni dengan tersenyum. 

Apakah kita karena kebahagiaan kita tersenyum? Tidak, kawan. Karena senyuman kitalah yang membuat kita bahagia. Cukup ringan cara ini. Siapapun dari kita bisa mempraktikannya kapanpun dan dimana pun berada. Kebahagiaan itu hak semua orang. Siapapun diri kita berhak untuk merasakan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan yang bagaimanakah yang kita ingin rasakan? Apakah sekilas kebahagiaan harta, kebahagiaan jabatan ataupun kebahagiaan keluarga yang semua kebahagiaan itu berbuah pada dunia.

Tentu kita semua menginginkan  kebahagiaan di dunia, agar kita bisa tentram dan nyaman menjalani kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita bisa membahagiakan diri sendiri sedangkan kita sendiri tak pernah tersenyum untuk diri kita? Apakah susah untuk tersenyum? Begitu mahalkah harga sebuah senyuman sehingga kita malas dan enggan untuk mempraktikannya ?

Senyuman yang berasal dari hati. Itulah senyuman yang akan menciptakan kebahagiaan. Senyuman yang selalu terlihat saat apapun yang menimpa hati kita. Dikala kita bersedih kita tetap tersenyum, dikala bahagia pun kita akan tetap tersenyum.

Pada hakikatnya kita hidup di dunia ini tak punya apa-apa . terbukti pada saat kita dilahirkan. Apakah ada yang dilahirkan membawa mobil atau harga lainnya? Tak seorang pun bayi yang dilahirkan ke dunia ini membawa apa pun selain yang diberikan Sang Pencipta kepadannya. Pakaian pun tak dia kenakan ketika pertama kali melihat dunia. Apa yang bisa dikita banggakan ketika semua itu memang pada asalnya tak ada.

Karena kebahagiaanlah yang membuat kita selalu termotivasi untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Keinginan untuk saling berbagi yang akan berbuah kebaikan walapun hanya dengan setitik senyuman yang tak akan pernah kembali terpancarkan ketika detak jantung kita sudah berhenti.

Tebarkanlah senyuman duhai kawan. Tak ada ruginya kita tersenyum. Justru kita akan mendapatkan pahala dari senyuman kita tersebut. Senyuman yang akan membuat diri kita bahagia dan orang lainnya yang merasakan senyuman tersebut.

Tersenyumlah. Selama senyuman itu masih bisa kita praktikkan. Selama senyuman itu dapat menebarkan kebaikan kepada orang-orang disekitarnya.

Tersenyumlah. Tebarkan kebaikan-kebaikan lewat senyuman polos yang didalamnya tak ada maksud tertentu apapun selain ingin membahagiakan diri sendiri dan orang lain.

Seperti yang pernah dilantunkan seorang tokoh yang menjadi pusat magnetik semua umat hingga akhir zaman,

“Senyummu ketika berjumpa saudaramu” ucap beliau. “adalah sebuah ibadah” (HR. al-Baihaqi)

Copyright @ 2013 AULIA RAHIM.